Trenggalek, NU OnlinePaham
radikal dan anti-NKRI adalah musuh bangsa Indonesia. Menurut data yang
disampaikan pihak kepolisian dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme
(BNPT), setidaknya ada 19 nama organisasi di Indonesia yang tergolong
dalam kelompok radikal.
Demikian ditegaskan Kepala Satkorwil
Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Jawa Timur dr H Umar Usman di hadapan
sekitar 350 peserta pendidikan dan latihan dasar (diklatsar) Banser
angkatan III Satkorcab Banser Trenggalek di Pondok Pesantren
Hidayatulloh Kecamatan Pule, Trenggalek, Sabtu (28/5) siang.
Siapa
saja 19 organisasi itu? Umar Usman menyebutkan antara lain Jamaah
Islamiyah, Tauhid Wal Jihad, NII, Majelis Mujahidin Indonesia Timur,
Mujahidin Indonesia Barat, Ring Banten, Jamaah Ansharut Tauhid, Jamaah
Al-Tawhid wal-Jihad, Pendukung dan Pembela Daulah Islamiah, Jamaah
Anshauri Daulah, Ma'had Ansharullah, Laskar Dinullah, Gerakan Tauhid
Lamongan, Halawi Makmun Grup, Ansharul Khilafah Jawa Timur, IS Aceh,
Ikhwan Muahid Indonesia fil Jazirah al-Muluk, Khilafatul Muslimin, dan
Al Muhajirin (sempalan HTI).
“Ke-19 organisasi tersebut
menggunakan kekerasan (dalam melancarkan aspirasinya, red). Mulai dari
mengkafirkan selain kelompoknya, melakukan teror, menembak, meledakan
bom, dan kegiatan lain yang mengandung teror. Nah, selanjutnya masih
terdapat organisasi yang dapat dikelompokkan anti NKRI dan Pancasila dan
di antaranya, neo-PKI dan HTI. Ini yang harus juga diwaspadai,”
katanya.
Menurutnya, persoalan PKI dan model barunya, punya kata
kunci, yaitu telah berkhianat pada NKRI dengan melakukan kudeta.
Sedangkan HTI adalah penggagas dan pengusung ideologi sistem khilafah
Islamiyyah untuk menggantikan bentuk NKRI, tidak menerima Pancasila dan
Bhinneka Tunggal Ika. “Untuk itulah Ansor dan Banser nenolak gerakan
paham radikal dan paham khilafah,” tegasnya.
Kenapa Banser dan
Ansor menolak khilafah? Umar Usman menambahkan, di antara alasan
pokoknya adalah karena khilafah memposisikan Indonesia sebagai negara
jajahan, berlaku purifikasi yang mencerabut warga dari budayanya
sendiri, dikriminasi gender, dan ancaman disintegrasi bagi wilayah di
Tanah Air yang berpenduduk non-Muslim.
“Apa bedanya dengan
pemberontakan DI/TII. Untuk itulah, Banser dan Ansor mengajak kepada,
OKP, LSM, ormas dan kepada seluruh anak bangsa yang masih mencintai
negerinya, yang memiliki paham nasionalisme, dan yang memiliki rasa
cinta kepada tanah, air bersatu padu menolak paham tersebut,” tegasnya.
Diklatsar
angkatan III kali ini diikuti lebih dari 300 peserta, sebelumnya
maksimal hanya diikuti tidak kurang dari 200 peserta. “Diklat ini
termasuk luar biasa. Karena diikuti lebih dari 300 orang. Kami berharap
dengan banyaknya anggota baru bisa menambah ghirah dan mutu SDM Banser
di Trenggalek,” ungkap Abdurrohman Ketua PC GP Ansor Trenggalek. (Imam Kusnin Ahmad/Mahbib)
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
Video Kami
Popular Posts
-
Posko Mudik Banser PC GP Ansor Kabupaten Nganjuk Tahun 2016
-
PERATURAN ORGANISASI GERAKAN PEMUDA ANSOR BARISAN ANSOR TANGGAP BENCANA (BAGANA)
-
BANSER HUSADA
-
Inilah Penjelasan Kiai Said soal Reposisi Kepengurusan PBNU
-
Mars Banser
-
Sosialisasi Hasil Konbes GP Ansor Tahun 2016 Dan Ngopi Bareng Gus Ipul Di Kantor PW Ansor Jawa Timur
-
Biografi Sunan Ampel
-
Mengenal Syech Junaid Al Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
-
Biografi Sunan Kudus
-
PENGUKUHAN SATKORWIL BANSER JATIM


0 Komentar untuk "Kepala Banser Jatim Sebut Nama-nama 19 Ormas Radikal"