WALI ALLAH LEBIH BERTAUHID KETIMBANG WAHABI YANG BICARA DAKWAH TAUHID !
Penulis : Von Edison Alouisci
ORANG YANG BENAR BENAR BERTAUHID,MENGESAKAN ALLAH DENGAN SUNGGUH SUNGGUH.. BIASANYA MENIMBULKAN KHAROMAH..
Karomah secara etimologi berasal dari kata berbahasa Arab “karoma” yang artinya hormat/menghormati/penghormatan/pemuliaan. Karomah dalam terminologi ulama ilmu tauhid adalah hal/perkara atau suatu kejadian yang luar biasa diluar nalar dan kemampuan manusia awam yang terjadi pada diri seorang wali Allah.
Munculnya karomah pada diri seorang wali Alloh adalah sebagai penghormatan/pemuliaan terhadap dirinya dan sebagai isyarat dari Alloh bagi terkabulnya/diterimanya eksistensi diri seorang wali tersebut di sisi Alloh.
Karamah secara bahasa adalah kemuliaan, namun secara istilah dalam agama maka banyak makna yg berbeda, yaitu pada muamalah (pergaulan) karamah adalah orang yg mulia dan dermawan, karamah adalah kelebihan yg Allah berikanpada orang yg shalih berupa keajaiban.
Allah berfirman “Inna alromakum ‘indalloohi atqookum”…Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kalian disisi Allah adalah yang paling bertakwa.
Jadi kalau melihat ayat ini jelas kedudukan seseorang yang paling mulia adalah dia yang bertakwa.dan orang yang bertakwa dengan sendirinya dialah wali Allah.
Wali sebagaimana artinya adalah kekasih.Wali Allah adalah berarti kekasih Allah.Kenapa dia dikasihi?..tentu karena ketakwaannya.Secara simpel arti takwa itu sendiri adalah imtitsalu awaamirillah wajtinabu nawaahiihi yakni menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan Nya.
Allâh Azza wa Jalla berfirman, yang artinya, “Ingatlah wali-wali Allâh itu, tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan senantiasa bertakwa.” [Yûnus/10:62-63]
al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata, ”Maksud wali Allâh adalah orang yang mengenal Allâh, selalu mentaati-Nya dan ikhlas dalam beribadah kepada-Nya.”Fathul Bâri (XI/342)
.
عَنْ أَبِـيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللّـهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : «إِنَّ اللهَ تَعَالَـى قَالَ : مَنْ عَادَى لِـيْ وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْـحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ عَبْدِيْ بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَـيَّ مِمَّـا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِيْ يَتَقَرَّبُ إِلَـيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِيْ يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِيْ يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِيْ يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِيْ يَمْشِيْ بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِيْ لَأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِـيْ لَأُعِيْذَنَّهُ».
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu ia berkata, Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ”Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berfirman, ’Barangsiapa memusuhi wali-Ku, sungguh Aku mengumumkan perang kepadanya. Tidaklah hamba-Ku mendekat kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada hal-hal yang Aku wajibkan kepadanya. Hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, Aku menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia meminta kepada-Ku, Aku pasti memberinya. Dan jika ia meminta perlindungan kepadaku, Aku pasti melindunginya.’”
Kelengkapan hadits ini adalah:
وَمَا تَرَدَّدْتُ عَنْ شَيْءٍ أَنَا فَاعِلُهُ تَرَدُّدِيْ عَنْ نَفْسِ الْمُؤْمِنِ يَكْرَهُ الْمَوْتَ وَأَنَا أَكْرَهُ مَسَاءَتَهُ
Aku tidak pernah ragu-ragu terhadap sesuatu yang Aku kerjakan seperti keragu-raguan-Ku tentang pencabutan nyawa orang mukmin. Ia benci kematian dan Aku tidak suka menyusahkannya.
TAKHRIJ HADITS
Hadits ini shahih. Diriwayatkan oleh Imam Bukhâri, no. 6502; Abu Nu’aim dalam Hilyatul Auliyâ’ , I/34, no. 1; al-Baihaqi dalam as-Sunanul Kubra, III/346; X/219 dan al-Baghawi dalam Syarhus Sunnah, no. 1248, dan lainnya
SYARAH HADITS
ath-Thûfi rahimahullah berkata, “Hadits ini merupakan asas tentang jalan menuju Allâh Subhanahu wa Ta’ala dan metode supaya bisa mengenal dan meraih cinta-Nya. Karena pelaksanaan kewajiban batin yaitu iman dan kewajiban zhahir yaitu Islam dan gabungan dari keduanya yaitu ihsân, semuanya terdapat dalam hadits ini, sebagaimana semuanya ini juga terkandung dalam hadits Jibril Alaihissallam. Dan ihsân menghimpun kedudukan orang-orang yang menuju kepada Allâh berupa zuhud, ikhlas, muraqabah, dan lainnya.
Ada hadits Qudsi) adalah dari Nabi saw akan tetapi maknanya dari Allah swt.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra bahwa Rasulullah saw bersabda :
“Allah swt berfirman : “Barangsiapa yang menunjukkan permusuhan dengan Wali-Ku maka Aku menyatakan perang dengannya.”
‘AL WALI’ ADALAH INDIVIDU YANG DICINTAI OLEH ALLAH SWT.
Sambungan hadist tersebut adalah :
“….Tidaklah hambaKu mendekatiKu dengan suatu pekerjaan yang lebih Aku sukai daripada dia mengerjakan apa yang Aku telah fardhukan ke atasnya. Dan sentiasalah hambaKu mendekatkan dirinya kepadaKu dengan melakukan yang sunat sehingga Aku cinta kepadanya. Ketika Aku mencintainya, Aku akan menjadi pendengarannya yang ia mendengar dengannya, menjadi penglihatannya yang ia melihat dengannya, menjadi tangannya yang ia bergerak dengannya dan menjadi kakinya yang ia berjalan dengannya. Dan sesungguhnya, jika ia meminta kepadaKu, niscaya Aku berikan kepadanya; Dan sesungguhnya, jika ia memohon perlindungan kepadaKu niscaya Aku berikan perlindungan kepadanya.” (HR Bukhari)
Maksudnya, “Sungguh Aku mengumumkan kepadanya bahwa Aku memeranginya karena ia memerangi-Ku dengan memusuhi wali-wali-Ku.” Jadi, wali-wali Allâh wajib dicintai dan haram dimusuhi, sebagaimana musuh-musuh Allâh wajib dimusuhi dan haram dicintai.
Dalam sebuah hadis sahih Rasulullah Saw bersabda
عمر بن الخطاب قال : قال النبي صلى الله عليه و سلم ” إن من عباد الله لأناسا ما هم بأنبياء ولا شهداء يغبطهم الأنبياء والشهداء يوم القيامة بمكانهم من الله تعالى ” قالوا يارسول الله تخبرنا من هم ؟ قال ” هم قوم تحابوا بروح الله ( فسروه بالقرآن . كذا قال الخطابي ) على غير أرحام بينهم ولا أموال يتعاطونها فو الله إن وجوههم لنور وإنهم على نور لا يخافون إذا خاف الناس ولا يحزنون إذا حزن الناس وقرأ هذه الآية { ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون } .
yang artinya: “Sesungguhnya diantara hamba Allah ada sekelompok manusia yang bukan Nabi dan bukan Syuhada’. Mereka dikelilingi oleh para Nabi dan Syuhada’ di hari kiamat karena kedudukannay disisi Allah.” Para sahabat bertanya:” Wahai Rasulullah, kabarkan kami siapa mereka?” Rasulullah menjawab: “Mereka adalah kaum yang saling mencintai dengan ruh Allah (ulama menafsiri: Al-Quran) tanpa hubungan keluarga antara mereka dan tanpa uang yang diberikan pada mereka. Demi Allah, sungguh wajah mereka adalah cahaya dan mereka diatas cahaya. Mereka tidak takut saat manusia ketakutan. Mereka tidak sussah saat semua manusia diterpa kesusahan.” Lalu Rasulullah membaca: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati” (HR Abu Dawud No 3527 dari Umar bin Khattab)
Dalam riwayat lain Rasulullah Saw bersabda saat haji wada’ (perpisahan):
أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال في حجة الوداع : ألا أن أولياء الله المصلون من يقيم الصلاة الخمس التي كتبن عليه و يصوم رمضان يحتسب صومه يرى أنه عليه حق و يعطي زكاة ماله يحتسبها و يجتنب الكبائر التي نهى الله عنها
Sesungguhnya para wali Allah adalah orang-orang yang mendirikan salat 5 waktu yang diwajibkan bagi mereka, berpuasa Ramadlan dengan mengharap pahala dan memenuhi kewajiban, memberikan zakat hartanya dengan mengharap pahala, dan menjauhi dosa besar yang dilarang oleh Allah” (HR al-Hakim No 7666 dan ia menilai sahih dan disetujui oleh al-Dzahabi)
Wali Allah sangat tinggi darjatnya di sisi Allah. Atas sebab inilah jika ada sesiapa yang memusuhi Wali-Wali Allah iaitu mukmin yang bertaqwa maka itu bererti ia memusuhi Allah dan Allah istiharkan perang kepada orang tersebut.
Setelah Allah swt menjelaskan amaranNya terhadap orang yang memusuhi dan membenci WaliNya, lalu seterusnya Allah menyebut pula beberapa sifat yang dimiliki oleh WaliNya yang kerana sifat-sifat itulah menjadikan mereka hampir denganNya.
Disebabkan pernyataan Allah yang tegas itulah, ianya menjadi penting untuk kita mengetahui siapakah ‘Wali Allah’ yang dimaksudkan itu dan apakah arti ‘Wali’ itu sendiri.
‘AL WALI’ ADALAH ORANG YANG DEKAT KEPADA ALLAH SWT.
Wali menurut bahasa artinya ‘qarib’ yakni dekat. Jadi Wali Allah (kekasih Allah) ialah orang yang sentiasa bertaqarrub (mendekatkan dirinya) kepada Allah swt.
Mereka jauh lebih bertauhid lebih dekat hubungannya dengan Allah.
Dan sepanjang, sejarah beradaban islam, mereka para wali kebanyakan adalah ahli tasyawuf,sufi sejati dengan kehidupan mereka yang sederhana,zuhud,tawakal,tawaduk,qonaah,wara` dan hal itu adalah khas para wali (ahli tasyawuf dan Sufi sejati) ..
Perhatikanlah uraian diatas. Allah pada dasarnya membenci orang orang yang memusuhi para wali-NYA krn mereka lebih memahami hakekat bertauhid.
“Barangsiapa yang memusuhi waliKu, maka Aku mengisytiharkan perang terhadapnya”
.
Lantas Bagimana dengan sekte wahabi yang ANTI TASYAWUF sementara Tasyawuf adalah Jalan Tauhid ??
Tasyawuf adalah pola kehidupan Rasulullah dan sahabat sehari hari..Lihatlah para sahabat.. adan yang berpakaian penuh tambalan,menyerahkan hartanya untuk perang..dan rakyat miskin,rela di hina dan di caci..Lihatlah sejarah Rasululah tafakur di gua hira.. bahkan pernah sering lapar dengan menekan batu di perutnya..
ألا إن أولياء الله لا خوف عليهم ولا هم يحزنون
Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. Yunus: 62.
Para wali Allah memilii kharomah ( sebagaimana maksud saya diatas) yang tidak bisa cerna dengan akal awam.dalam dalam kesederhanaan mereka.. semua seakan cukup.makan,minum..pergi kesuatu tempat..dan Itu karunia Allah yang hanya di berikan pada WaliNya yang sungguh mencintaiNya.Dan realitanya ada banyak contoh mereka punya kelebihan yang tidak dimiliki orang awam.
Dan sekali lagi Jika bicara DAHWAH TAUHID WAHABI.
Apakah pengikut wahabi sudah mampu sejajar dengan Wali Allah untuk mengajarkan Tauhid ??
.
Saya tidak pernah mendengar Keajaiban Ulama Ulama wahabi karna di anggap sudah bertauhid selain hanya mendapat kharomah,bidah,syirik dan kafir saja di mulut mereka yang lancang.sementara Sipat wali sebenarnya tidak demikian..
Akhir kata BENCILAH AHLI TASYAWUF yang merupakan jalan Wali.Maka Allah pun akan membenci kalian dan itu berarti adalah Laknat Allah.Intaha.
kingstones street.25.12.2014
by. Von Edison Alouisci
Sumber : http://aswajacenter.com/news/290/wali-allah-lebih-bertauhid-ketimbang-wahabi
Next
« Prev Post
« Prev Post
Previous
Next Post »
Next Post »
Video Kami
Popular Posts
-
Posko Mudik Banser PC GP Ansor Kabupaten Nganjuk Tahun 2016
-
PERATURAN ORGANISASI GERAKAN PEMUDA ANSOR BARISAN ANSOR TANGGAP BENCANA (BAGANA)
-
BANSER HUSADA
-
Inilah Penjelasan Kiai Said soal Reposisi Kepengurusan PBNU
-
Mars Banser
-
Sosialisasi Hasil Konbes GP Ansor Tahun 2016 Dan Ngopi Bareng Gus Ipul Di Kantor PW Ansor Jawa Timur
-
Biografi Sunan Ampel
-
Mengenal Syech Junaid Al Baghdadi, Imam Tasawuf Panutan NU
-
Biografi Sunan Kudus
-
PENGUKUHAN SATKORWIL BANSER JATIM

0 Komentar untuk "Wali Allah Lebih Bertauhid Ketimbang Wahabi"