KH
Hasyim Al Asy’ari adalah
seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar
di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal
sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam
pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum,
berorganisasi, dan berpidato.
Biografi KH Hasyim Al
Asy’ari dari Biografi Web
Karya
dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok
Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya
yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari,
pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama
Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya
VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja
Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).
Kelahiran Dan Masa Kecil
Tidak
jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa
Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di
Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan
sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Lajjinah dan dikaruniai enam anak:
- Halimah (Winih)
- Muhammad
- Leler
- Fadli
- Arifah
Halimah
kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari,
ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25
tahun. Mereka dikarunia 10 anak:
- Nafi’ah
- Ahmad Saleh
- Muhammad Hasyim
- Radiyah
- Hasan
- Anis
- Fatonah
- Maimunah
- Maksun
- Nahrowi, dan
- Adnan.
Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah
1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Masa dalam kandungan dan
kelahiran KH.M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyarat yang menunjukkan
kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh
kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak
merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan.
Di
masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini
berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya
yang pindah ke Desa Keras terletak di selatan kota Jombang dan di desa tersebut
Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.
Principle
of early learning,
mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan beliau
yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau
nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai
pesantren dapat dilihat bagaimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan
kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan
keakraban dan saling membantu..
Belajar Pada Keluarga
Perjalanan
keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik
dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali
baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya
yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. Dengan
modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam
usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik
bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. Ketidakpuasannya terhadap
apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak
cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun
di Desa Keras (umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai
melakukan pengembaraanya menuntut ilmu.
Mengembara ke Berbagai Pesantren
Dalam
usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu, Muhammad Hasyim belajar ke
pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di
antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo,
Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H
Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad
Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).
Ada
cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH.M. Hasyim Asy’ari “ngangsu kawruh” dengan
Kiai Khalil. Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau
memberanikan diri untuk bertanya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya
jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi.
Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istrinya. Setelah melihat
kesedihan di wajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari
cincin tersebut didalam WC. Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin
itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, akhirnya
Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas
keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat
dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali
ke masyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat
Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang dibawa KH. As’ad
Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo).
Setelah
sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307
H/1891 M), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan,
Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan K. H. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu dan
shorofnya. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri
tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya.
Pada
tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah
dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut,
beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama
istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga
memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru
yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya
sejak di tanah air.
Perjalanan
hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti.demikian
juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Mekah. Setelah tujuh bulan
bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Di tengah
kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan
kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga
menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu
sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya
penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang
nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki
teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai
akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama
mertuanya.
Kematangan Ilmu di Tanah Suci
Kerinduan
akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota
Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama
adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali
tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah. Namun hal itu justru
membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu
pengetahuan. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput
dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua
Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di
Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang
tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah,
di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas
(dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu
hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi (dalam
segala bidang keilmuan).
Upaya
yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, beliau
pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang
bersifat ma’qul maupun manqul, seabagi bekal untuk beramal dan mengajar di
kampung halaman.
Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng
Sepulang
dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri,
beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang
kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu
belaiu mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat
menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Akungnya, karena
berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim
kembali lagi ke Jombang.
Ketika
telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang
dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang
kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanaya besar
dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya.
Nama
Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut
ada seekor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali
lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang
asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi
dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang
akhirnya berubah menjadi Tebuireng.
Pada
tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng,
bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda
Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan
dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di
Tebuireng dapat diatasi.
KH.
M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu
keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan
Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh
ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini
berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M.Yusuf Hasyim).
Para awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian
bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan
orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan
menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok
pesantren.
Mendirikan Nahdlatul Ulama’
Disamping
aktif mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat
lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di
Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama)
bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar
lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari
madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am
dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan
kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU,
sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga
menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli
sunnah waljama’ah.
Nahdlatul
ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad
untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk
menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai
Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang
dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk
menghancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan
syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudomba antar sesama. Beliau sebagai
orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan
dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari
jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar
yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain.
Jam’iyah
ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada
batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada manhaj
dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan
agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkankan pada persoalan pendidikan,
pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas
pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya
sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU
bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai
polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam
politik praktis ini kemudian diangulir dengan keputusan Muktamar Situbono yanh
menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada khitohnya.
Pejuang Kemerdekaan
Peran
KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan,
melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif
dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada
tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan
bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada
malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang
kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad
SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
- Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
- Harta benda yang berlimpah-limpah
- Gadis-gadis tercantik
Akan
tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa
meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan
agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa
taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada
santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat
Nabi SAW.
Masa-masa
revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat
bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah
fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga
salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu
itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan
bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad
yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih
dikenal dengan hari pahlawan nasional.
Begitu
pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan
dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap
sebagai penghalang pergerakan Jepang.
Setelah
Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua
umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu
dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia
pada tahun 1947.
Keluarga Dan Sisilah
Hampir
bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M.
Hasyim Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh
Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10
putra dan putri yaitu:
- Hannah
- Khoiriyah
- Aisyah
- Azzah
- Abdul Wahid
- Abdul hakim (Abdul Kholiq)
- Abdul Karim
- Ubaidillah
- Mashurroh
- Muhammad Yusuf.
Menjelang
akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali denagn Nyai Masruroh,
putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri,
dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu:
- Abdul Qodir
- Fatimah
- Chotijah
- Muhammad Ya’kub
Garis
keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan )
Muhammad
Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran
Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaga Tingkir) yang kemudian bergelar
Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI
Wafatnya Sang Tokoh
Pada
Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat
Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada
ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan
Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan
didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat.
Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk
berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.
Namun
kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang
semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar
laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau
memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang
mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar. Akan tetapi, beliau tidak menjawab,
sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuk
meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim
Asy’ari. Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim
tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan
membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada
di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di
markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan
(Dokter Angka Nitisastro).
Tak
lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak.
Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak
lain pada kekasihnya itu. KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi,
Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna
LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Kepergian
belaiu ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat
dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil
maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para
santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini
berbaring di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar
kepergianya, shahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat
mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup belaiu,
yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder
istirahat”.
Karya Kitab Klasik
Peninggalan
lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela
kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan
memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari
sikap dan perilakunya, pemikirannya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang
rata-rata berbahasa Arab.
Tetapi
sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang
sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau
tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa
diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
- Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya
- Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar
- Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
- Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
- Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
- Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
- Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
- Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin yasir Pasuruaan
Biografi KH Hasyim Al
Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama (NU)
KH
Hasyim Al Asy’ari adalah
seorang ulama pendiri Nahdlatul Ulama (NU), organisasi kemasyarakatan terbesar
di Indonesia. Ia juga pendiri pesantren Tebuireng, Jawa Timur dan dikenal
sebagai tokoh pendidikan pembaharu pesantren. Selain mengajarkan agama dalam
pesantren, ia juga mengajar para santri membaca buku-buku pengetahuan umum,
berorganisasi, dan berpidato.
Biografi KH Hasyim Al
Asy’ari dari Biografi Web
Karya
dan jasa Kiai Hasyim Asy’ari yang lahir di Pondok
Nggedang, Jombang, Jawa Timur, 10 April 1875 tidak lepas dari nenek moyangnya
yang secara turun-temurun memimpin pesantren. Ayahnya bernama Kiai Asyari,
pemimpin Pesantren Keras yang berada di sebelah selatan Jombang. Ibunya bernama
Halimah. Dari garis ibu, Kiai Hasyim Asy’ari merupakan keturunan Raja Brawijaya
VI, yang juga dikenal dengan Lembu Peteng, ayah Jaka Tingkir yang menjadi Raja
Pajang (keturunan kedelapan dari Jaka Tingkir).
Kelahiran Dan Masa Kecil
Tidak
jauh dari jantung kota Jombang ada sebuah dukuh yang bernama Ngedang Desa
Tambak Rejo yang dahulu terdapat Pondok Pesantren yang konon pondok tertua di
Jombang, dan pengasuhnya Kiai Usman. Beliau adalah seorang kiai besar, alim dan
sangat berpengaruh, istri beliau Nyai Lajjinah dan dikaruniai enam anak:
- Halimah (Winih)
- Muhammad
- Leler
- Fadli
- Arifah
Halimah
kemudian dijodohkan dengan seorang santri ayahandanya yang bernama Asy’ari,
ketika itu Halimah masih berumur 4 tahun sedangkan Asy’ari hampir beruisa 25
tahun. Mereka dikarunia 10 anak:
- Nafi’ah
- Ahmad Saleh
- Muhammad Hasyim
- Radiyah
- Hasan
- Anis
- Fatonah
- Maimunah
- Maksun
- Nahrowi, dan
- Adnan.
Muhammad Hasyim, lahir pada hari Selasa Tanggal 24 Dzulqo’dah
1287 H, bertepatan dengan tanggal 14 Pebruari 1871 M. Masa dalam kandungan dan
kelahiran KH.M. Hasyim Asy’ari, nampak adanya sebuah isyarat yang menunjukkan
kebesarannya. diantaranya, ketika dalam kandungan Nyai Halimah bermimpi melihat bulan purnama yang jatuh
kedalam kandungannya, begitu pula ketika melahirkan Nyai Halimah tidak
merasakan sakit seperti apa yang dirasakan wanita ketika melahirkan.
Di
masa kecil beliau hidup bersama kakek dan neneknya di Desa Ngedang, ini
berlangsung selama enam tahun. Setelah itu beliau mengikuti kedua orang tuanya
yang pindah ke Desa Keras terletak di selatan kota Jombang dan di desa tersebut
Kiai Asy’ari mendirikan pondok pesantren yang bernama Asy’ariyah.
Principle
of early learning,
mungkin teori ini layak disandang oleh beliau, berdasarkan kehidupan beliau
yang mendukung yaitu hidup dilingkungan pesantren, sehingga wajar kalau
nilai-nilai pesantren sangat meresap pada dirinya, begitu pula nilai-nilai
pesantren dapat dilihat bagaimana ayahanda dan bundanya memberikan bimbingan
kepada santri, dan bagaimana para santri hidup dengan sederhana penuh dengan
keakraban dan saling membantu..
Belajar Pada Keluarga
Perjalanan
keluarga beliau pulalah yang memulai pertama kali belajar ilmu-ilmu agama baik
dari kakek dan neneknya. Desa Keras membawa perubahan hidup yang pertama kali
baginya, disini mula-mula ia menerima pelajaran agama yang luas dari ayahnya
yang pada saat itu pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Asy’ariyah. Dengan
modal kecerdasan yang dimiliki dan dorongan lingkungan yang kondusif, dalam
usia yang cukup muda, beliau sudah dapat memahami ilmu-ilmu agama, baik
bimbingan keluarga, guru, atau belajar secara autodidak. Ketidakpuasannya terhadap
apa yang sudah dipelajari, dan kehausan akan mutiara ilmu, membuatnya tidak
cukup hanya belajar pada lingkungan keluarganya. Setelah sekitar sembilan tahun
di Desa Keras (umur 15 tahun) yakni belajar pada keluarganya, beliau mulai
melakukan pengembaraanya menuntut ilmu.
Mengembara ke Berbagai Pesantren
Dalam
usia 15 tahun, perjalanan awal menuntut ilmu, Muhammad Hasyim belajar ke
pondok-pondok pesantren yang masyhur di tanah Jawa, khususnya Jawa Timur. Di
antaranya adalah Pondok Pesantren Wonorejo di Jombang, Wonokoyo di Probolinggo,
Tringgilis di Surabaya, dan Langitan di Tuban (sekarang diasuh oleh K.H
Abdullah Faqih), kemudian Bangkalan, Madura, di bawah bimbingan Kiai Muhammad
Khalil bin Abdul Latif (Syaikhuna Khalil).
Ada
cerita yang cukup mengagumkan tatkala KH.M. Hasyim Asy’ari “ngangsu kawruh” dengan
Kiai Khalil. Suatu hari, beliau melihat Kiai Khalil bersedih, beliau
memberanikan diri untuk bertanya. Kiai Khalil menjawab, bahwa cincin istrinya
jatuh di WC, Kiai Hasyim lantas usul agar Kiai Khalil membeli cincin lagi.
Namun, Kiai Khalil mengatakan bahwa cincin itu adalah cincin istrinya. Setelah melihat
kesedihan di wajah guru besarnya itu, Kiai Hasyim menawarkan diri untuk mencari
cincin tersebut didalam WC. Akhirnya, Kiai Hasyim benar-benar mencari cincin
itu didalam WC, dengan penuh kesungguhan, kesabaran, dan keikhlasan, akhirnya
Kiai Hasyim menemukan cincin tersebut. Alangkah bahagianya Kiai Khalil atas
keberhasilan Kiai Hasyim itu. Dari kejadian inilah Kiai Hasyim menjadi sangat
dekat dengan Kiai Khalil, baik semasa menjadi santrinya maupun setelah kembali
ke masyarakat untuk berjuang. Hal ini terbukti dengan pemberian tongkat saat
Kiai Hasyim hendak mendirikan Jam’iyah Nahdlatul Ulama’ yang dibawa KH. As’ad
Syamsul Arifin (pengasuh Pondok Pesantren Syafi’iyah Situbondo).
Setelah
sekitar lima tahun menuntut ilmu di tanah Madura (tepatnya pada tahun 1307
H/1891 M), akhirnya beliau kembali ke tanah Jawa, belajar di pesantren Siwalan,
Sono Sidoarjo, dibawah bimbingan K. H. Ya’qub yang terkenal ilmu nahwu dan
shorofnya. Selang beberapa lama, Kiai Ya’qub semakin mengenal dekat santri
tersebut dan semakin menaruh minat untuk dijadikan menantunya.
Pada
tahun 1303 H/1892 M., Kiai Hasyim yang saat itu baru berusia 21 tahun menikah
dengan Nyai Nafisah, putri Kiai Ya’qub. Tidak lama setelah pernikahan tersebut,
beliau kemudian pergi ke tanah suci Mekah untuk menunaikan ibadah haji bersama
istri dan mertuanya. Disamping menunaikan ibadah haji, di Mekah beliau juga
memperdalam ilmu pengetahuan yang telah dimilkinya, dan menyerap ilmu-ilmu baru
yang diperlukan. Hampir seluruh disiplin ilmu agama dipelajarinya, terutama
ilmu-ilmu yang berkaitan dengan hadits Rasulullah SAW yang menjadi kegemarannya
sejak di tanah air.
Perjalanan
hidup terkadang sulit diduga, gembira dan sedih datang silih berganti.demikian
juga yang dialami Kiai Hasyim Asy’ari di tanah suci Mekah. Setelah tujuh bulan
bermukim di Mekah, beliau dikaruniai putra yang diberi nama Abdullah. Di tengah
kegembiraan memperoleh buah hati itu, sang istri mengalami sakit parah dan
kemudian meninggal dunia. empat puluh hari kemudian, putra beliau, Abdullah, juga
menyusul sang ibu berpulang ke Rahmatullah. Kesedihan beliau yang saat itu
sudah mulai dikenal sebagai seorang ulama, nyaris tak tertahankan. Satu-satunya
penghibur hati beliau adalah melaksanakan thawaf dan ibadah-ibadah lainnya yang
nyaris tak pernah berhenti dilakukannya. Disamping itu, beliau juga memiliki
teman setia berupa kitab-kitab yang senantiasa dikaji setiap saat. Sampai
akhirnya, beliau meninggalkan tanah suci, kembali ke tanah air bersama
mertuanya.
Kematangan Ilmu di Tanah Suci
Kerinduan
akan tanah suci rupanya memanggil beliau untuk kembali lagi pergi ke kota
Mekah. Pada tahun 1309 H/1893 M, beliau berangkat kembali ke tanah suci bersama
adik kandungnya yang bernama Anis. Kenangan indah dan sedih teringat kembali
tatkala kaki beliau kembali menginjak tanah suci Mekah. Namun hal itu justru
membangkitkan semangat baru untuk lebih menekuni ibadah dan mendalami ilmu
pengetahuan. Tempat-tempat bersejarah dan mustajabah pun tak luput
dikunjunginya, dengan berdoa untuk meraih cita-cita, seperti Padang Arafah, Gua
Hira’, Maqam Ibrahim, dan tempat-tempat lainnya. Bahkan makam Rasulullah SAW di
Madinah pun selalu menjadi tempat ziarah beliau. Ulama-ulama besar yang
tersohor pada saat itu didatanginya untuk belajar sekaligus mengambil berkah,
di antaranya adalah Syaikh Su’ab bin Abdurrahman, Syaikh Muhammad Mahfud Termas
(dalam ilmu bahasa dan syariah), Sayyid Abbas Al-Maliki al-Hasani (dalam ilmu
hadits), Syaikh Nawawi Al-Bantani dan Syaikh Khatib Al-Minang Kabawi (dalam
segala bidang keilmuan).
Upaya
yang melelahkan ini tidak sia-sia. Setelah sekian tahun berada di Mekah, beliau
pulang ke tanah air dengan membawa ilmu agama yang nyaris lengkap, baik yang
bersifat ma’qul maupun manqul, seabagi bekal untuk beramal dan mengajar di
kampung halaman.
Mendirikan Pondok Pesantren Tebuireng
Sepulang
dari tanah suci sekitar Tahun1313 H/1899 M, beliau memulai mengajar santri,
beliau pertama kali mengajar di Pesantren Ngedang yang diasuh oleh mediang
kakeknya, sekaligus tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan. Setelah itu
belaiu mengajar di Desa Muning Mojoroto Kediri. Disinilah beliau sempat
menikahi salah seoarang putri Kiai Sholeh Banjar Melati. Akungnya, karena
berbagai hal, pernikahan tersebut tidak berjalan lama sehingga Kiai Hasyim
kembali lagi ke Jombang.
Ketika
telah berada di Jombang beliau berencana membangun sebuah pesantren yang
dipilihlah sebuah tempat di Dusun Tebuireng yang pada saat itu merupakan sarang
kemaksiatan dan kekacauan. Pilihan itu tentu saja menuai tanda tanaya besar
dikalangan masyarakat, akan tetapi semua itu tidak dihiraukannaya.
Nama
Tebuireng pada asalnya Kebo ireng (kerbau hitam). Ceritanya, Di dearah tersebut
ada seekor kerbau yang terbenam didalam Lumpur, dimana tempat itu banyak sekali
lintahnya, ketika ditarik didarat, tubuh kerbau itu sudah berubah warna yang
asalnya putih kemerah-merahan berubah menjadi kehitam-hitaman yang dipenuhi
dengan lintah. Konon semenjak itulah daerah tadi dinamakan Keboireng yang
akhirnya berubah menjadi Tebuireng.
Pada
tanggal 26 Robiul Awal 1317 H/1899 M, didirikanlah Pondok Pesantren Tebuireng,
bersama rekan-rekan seperjuangnya, seperti Kiai Abas Buntet, Kiai Sholeh Benda
Kereb, Kiai Syamsuri Wanan Tara, dan beberapa Kiai lainnya, segala kesuliatan
dan ancaman pihak-pihak yang benci terhadap penyiaran pendidikan Islam di
Tebuireng dapat diatasi.
KH.
M. Hasyim Asya’ri memulai sebuah tradisi yang kemudian menjadi salah satu
keistimewaan beliau yaitu menghatamkan kitab shakhihaini “Al-Bukhori dan
Muslim” dilaksanakan pada setiap bulan suci ramadlan yang konon diikuti oleh
ratusan kiai yang datang berbondong-bondong dari seluruh jawa. Tradisi ini
berjalan hingga sampai sekarang (penggasuh PP. Tebuireng KH. M.Yusuf Hasyim).
Para awalnya santri Pondok Tebuireng yang pertama berjumlah 28 orang, kemudian
bertambah hingga ratusan orang, bahkan diakhir hayatnya telah mencapai ribuan
orang, alumnus-alumnus Pondok Tebuireng yang sukses menjadi ulama’ besar dan
menjadi pejabat-pejabat tinggi negara, dan Tebuireng menjadi kiblat pondok
pesantren.
Mendirikan Nahdlatul Ulama’
Disamping
aktif mengajar beliau juga aktif dalam berbagai kegiatan, baik yang bersifat
lokal atau nasional. Pada tanggal 16 Sa’ban 1344 H/31 Januari 1926 M, di
Jombang Jawa Timur didirikanlah Jam’iyah Nahdlotul Ulama’ (kebangkitan ulama)
bersama KH. Bisri Syamsuri, KH. Wahab Hasbullah, dan ulama’-ulama’ besar
lainnya, dengan azaz dan tujuannya: “Memegang dengan teguh pada salah satu dari
madzhab empat yaitu Imam Muhammad bin Idris Asyafi’i, Imam Malik bin Anas, Imam Abu Hanifah An-Nu’am
dan Ahmad bin Hambali. Dan juga mengerjakan apa saja yang menjadikan
kemaslahatan agama Islam”. KH. Hasyim Asy’ari terpilih menjadi rois akbar NU,
sebuah gelar sehingga kini tidak seorang pun menyandangnya. Beliau juga
menyusun qanun asasi (peraturan dasar) NU yang mengembangkan faham ahli
sunnah waljama’ah.
Nahdlatul
ulama’ sebagai suatu ikatan ulama’ seluruh Indonesia dan mengajarkan berjihad
untuk keyakinan dengan sistem berorganisasi. Memang tidak mudah untuk
menyatukan ulama’ yang berbeda-beda dalam sudut pandangnya, tetapi bukan Kiai
Hasyim kalau menyerah begitu saja, bahwa beliau melihat perjuangan yang
dilakukan sendiri-sendiri akan lebih besar membuka kesempatan musuh untuk
menghancurkannya, baik penjajah atau mereka yang ingin memadamkan sinar dan
syi’ar Islam di Indonesia, untuk mengadudomba antar sesama. Beliau sebagai
orang yang tajam dan jauh pola pikirnya dalam hal ini, melihat bahaya yang akan
dihadapkannya oleh umat Islam, dan oleh karena itu beliau berfikir mencari
jalan keluarnya yaitu dengan membentuk sebuah organisasi dengan dasar-dasar
yang dapat diterima oleh ulama’ulama lain.
Jam’iyah
ini berpegang pada faham ahlu sunnah wal jama’ah, yang mengakomodir pada
batas-batas tertentu pola bermadzhab, yang belakangan lebih condong pada manhaj
dari pada sekedar qauli. Pada dasawarsa pertama NU berorentasi pada persoalan
agama dan kemasyarakatan. Kegiatan diarahkankan pada persoalan pendidikan,
pengajian dan tabligh. Namun ketika memasuki dasawarsa kedua orentasi diperluas
pada persoalan-persolan nasional. Hal tersebut terkait dengan keberadaannya
sebagai anggota federasi Partai dan Perhimpunan Muslim Indonesia (MIAI) NU
bahkan pada perjalanan sejarahnya pernah tampil sebagai salah satu partai
polotik peserta pemilu, yang kemudian menyatu dengan PPP, peran NU dalam
politik praktis ini kemudian diangulir dengan keputusan Muktamar Situbono yanh
menghendaki NU sebagai organisasi sosial keagamaan kembali pada khitohnya.
Pejuang Kemerdekaan
Peran
KH. M. Hasyim Asy’ari tidak hanya terbatas pada bidang keilmuan dan keagamaan,
melainkan juga dalam bidang sosial dan kebangsaan, beliau terlibat secara aktif
dalam perjuangan membebaskan bangsa dari penjajah belanda.
Pada
tahun 1937 beliau didatangi pimpinan pemerintah belanda dengan memberikan
bintang mas dan perak tanda kehormatan tetapi beliau menolaknya. Kemudian pada
malam harinya beliau memberikan nasehat kepada santri-santrinya tentang
kejadian tersebut dan menganalogkan dengan kejadian yang dialami Nabi Muhammad
SAW yang ketika itu kaum Jahiliyah menawarinya dengan tiga hal, yaitu:
- Kursi kedudukan yang tinggi dalam pemerintahan
- Harta benda yang berlimpah-limpah
- Gadis-gadis tercantik
Akan
tetapi Nabi SAW menolaknya bahkan berkata: “Demi Allah, jika mereka kuasa
meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku dengan tujuan
agar aku berhenti dalam berjuang, aku tidak akan mau menerimanya bahkan nyawa
taruhannya”. Akhir KH.M. Hasyim Asy’ari mengakhiri nasehat kepada
santri-santrinya untuk selalu mengikuti dan menjadikan tauladan dari perbuat
Nabi SAW.
Masa-masa
revolusi fisik di Tahun 1940, barang kali memang merupakan kurun waktu terberat
bagi beliau. Pada masa penjajahan Jepang, beliau sempat ditahan oleh pemerintah
fasisme Jepang. Dalam tahanan itu beliau mengalami penyiksaan fisik sehingga
salah satu jari tangan beliau menjadi cacat. Tetapi justru pada kurun waktu
itulah beliau menorehkan lembaran dalam tinta emas pada lembaran perjuangan
bangsa dan Negara republik Indonesia, yaitu dengan diserukan resolusi jihad
yang beliau memfatwakan pada tanggal 22 Oktober 1945, di Surabaya yang lebih
dikenal dengan hari pahlawan nasional.
Begitu
pula masa penjajah Jepang, pada tahun 1942 Kiai Hasyim dipenjara (Jombang) dan
dipindahkan penjara Mojokerto kemudian ditawan di Surabaya. Beliau dianggap
sebagai penghalang pergerakan Jepang.
Setelah
Indonesia merdeka Pada tahun 1945 KH. M. Hasyim Asy’ari terpilih sebagai ketua
umum dewan partai Majlis Syuro Muslimin Indonesia (MASYUMI) jabatan itu
dipangkunya namun tetap mengajar di pesantren hingga beliau meninggal dunia
pada tahun 1947.
Keluarga Dan Sisilah
Hampir
bersamaan dengan berdirinya Pondok Pesantren Tebuireng (1317 H/1899 M), KH. M.
Hasyim Asya’ri menikah lagi dengan Nyai Nafiqoh putri Kiai Ilyas pengasuh
Pondok Pesantren Sewulan Madiun. Dari perkawinan ini kiai hasyim dikaruniai 10
putra dan putri yaitu:
- Hannah
- Khoiriyah
- Aisyah
- Azzah
- Abdul Wahid
- Abdul hakim (Abdul Kholiq)
- Abdul Karim
- Ubaidillah
- Mashurroh
- Muhammad Yusuf.
Menjelang
akhir Tahun 1930, KH. M. Hasyim Asya’ri menikah kembali denagn Nyai Masruroh,
putri Kiai Hasan, pengasuh Pondok Pesantren Kapurejo, Kecamatan Pagu Kediri,
dari pernikahan tersebut, beliua dikarunia 4 orang putra-putri yaitu:
- Abdul Qodir
- Fatimah
- Chotijah
- Muhammad Ya’kub
Garis
keturunan KH. M. Hasyim Asy’ari (Nenek ke-sembilan )
Muhammad
Hasyim bin Asy’ari bin Abdul Wahid (Pangeran Sambo) bin Abdul Halim (Pangeran
Benowo) bin Abdul Rahman (Mas Karebet/Jaga Tingkir) yang kemudian bergelar
Sultan Hadiwijaya bin Abdullah (Lembu Peteng) yang bergelar Brawijaya VI
Wafatnya Sang Tokoh
Pada
Tanggal 7 Ramadhan 1366 M. jam 9 malam, beliau setelah mengimami Shalat
Tarawih, sebagaimana biasanya duduk di kursi untuk memberikan pengajian kepada
ibu-ibu muslimat. Tak lama kemudian, tiba-tiba datanglah seorang tamu utusan
Jenderal Sudirman dan Bung Tomo. Sang Kiai menemui utusan tersebut dengan
didampingi Kiai Ghufron, kemudian tamu itu menyampaikan pesan berupa surat.
Entah apa isi surat itu, yang jelas Kiai Hasyim meminta waktu semalam untuk
berfikir dan jawabannya akan diberikan keesokan harinya.
Namun
kemudian, Kiai Ghufron melaporkan situasi pertempuran dan kondisi pejuang yang
semakin tersudut, serta korban rakyat sipil yang kian meningkat. Mendengar
laporan itu, Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah, Masya Allah…” kemudian beliau
memegang kepalanya dan ditafsirkan oleh Kiai Ghufron bahwa beliau sedang
mengantuk. Sehingga para tamu pamit keluar. Akan tetapi, beliau tidak menjawab,
sehingga Kiai Ghufron mendekat dan kemudian meminta kedua tamu tersebut untuk
meninggalkan tempat, sedangkan dia sendiri tetap berada di samping Kiai Hasyim
Asy’ari. Tak lama kemudian, Kiai Ghufron baru menyadari bahwa Kiai Hasiyim
tidak sadarkan diri. Sehingga dengan tergopoh-gopoh, ia memanggil keluarga dan
membujurkan tubuh Kiai Hasyim. Pada saat itu, putra-putri beliau tidak berada
di tempat, misalnya Kiai Yusuf Hasyim yang pada saat itu sedang berada di
markas tentara pejuang, walaupun kemudian dapat hadir dan dokter didatangkan
(Dokter Angka Nitisastro).
Tak
lama kemudian baru diketahui bahwa Kiai Hasyim terkena pendarahan otak.
Walaupun dokter telah berusaha mengurangi penyakitnya, namun Tuhan berkehendak
lain pada kekasihnya itu. KH.M. Hasyim Asy’ari wafat pada pukul 03.00 pagi,
Tanggal 25 Juli 1947, bertepatan dengan Tanggal 07 Ramadhan 1366 H. Inna
LiLlahi wa Inna Ilaihi Raji’un.
Kepergian
belaiu ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan bela sungkawa yang amat
dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil
maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para
santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini
berbaring di pusara beliau di tenggah Pesantrn Tebuireng. Pada saat mengantar
kepergianya, shahabat dan saudara beliau, KH. Wahab hazbulloh, sempat
mengemukakan kata sambutan yang pada intinya menjelaskan prinsip hidup belaiu,
yakni, “berjuang terus dengan tiada mengenal surut, dan kalau perlu zonder
istirahat”.
Karya Kitab Klasik
Peninggalan
lain yang sangat berharga adalah sejumlah kitab yang beliau tulis disela-sela
kehidupan beliau didalam mendidik santri, mengayomi ribuan umat, membela dan
memperjuangkan bumi pertiwi dari penjajahan. Ini merupakan bukti riil dari
sikap dan perilakunya, pemikirannya dapat dilacak dalam beberapa karyanya yang
rata-rata berbahasa Arab.
Tetapi
sangat disayangkan, karena kurang lengkapnya dokumentasi, kitab-kitab yang
sangat berharga itu lenyap tak tentu rimbanya. Sebenarnya, kitab yang beliau
tulis tidak kurang dari dua puluhan judul. Namun diakungkan yang bisa
diselamatkan hanya beberapa judul saja, diantaranya:
- Al-Nurul Mubin Fi Mahabati Sayyidi Mursalin. Kajian kewajiban beriman, mentaati, mentauladani, berlaku ikhlas, mencinatai Nabi SAW sekaligus sejarah hidupnya
- Al-Tanbihat al-Wajibat Liman Yashna’u al-Maulida Bi al-Munkarat. Kajian mengenai maulid nabi dalam kaitannya dengan amar ma’ruf nahi mungkar
- Risalah Ahli Sunnah Wal Jama’ah. Kajian mengenai pandangan terhadap bid’ah, Konsisi salah satu madzhab, dan pecahnya umat menjadi 73 golongan
- Al-Durasul Muntasyiroh Fi Masail Tis’a ‘asyaraoh. Kajian tentang wali dan thoriqoh yang terangkum dalam sembilan belas permasalahan.
- Al-Tibyan Fi Nahyi’an Muqatha’ah al-Arham Wa al-Aqrab Wa al-Akhwal. Kajian tentang pentingnya jalinan silaturahmi antar sesama manusia
- Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Pandangan tentang etika belajar dan mengajar didalam pendidikan pesantrren pada khususnya
- Dlau’ al-Misbah Fi Bayani Ahkami Nikah. Kajian hukum-hukum nikah, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan
- Ziyadah Ta’liqot. Kitab yang berisikan polemic beliau dengan syaikh Abdullah bin yasir Pasuruaan
Ansor Nganjuk


0 Komentar untuk "Biografi KH Hasyim Al Asy’ari Pendiri Nahdlatul Ulama ( NU )"